MAKALAH
KIMIA
ANALITIK
‘’ ANALISA VOLUMETRI’’
DISUSUN
OLEH :
NURWAHIDA
1513140013
KIMIA
SAINS
JURUSAN
KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI MAKASSAR
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat
Allah SWT, yang telah memberikan saya kesempatan untuk dapat menyelesaikan
makalah ini, dan juga kiranya patut saya ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing
yakni Bapak Maryono. S.Si, M.Si, M.M dalam makalah ini saya membahas tentang ‘’Analis Volumetri’ dengan ini, saya
menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan. Hal
ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang saya
miliki sebagai mahasiswa. Namun demikian, banyak pula pihak yang telah membantu
saya dan memberikan pemikiran serta solusi untuk pemecahan masalah saya. Oleh
karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki makalah ini di
waktu yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya
dan bagi pembaca umumnya.
Makassar, 28 September 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………..……………………………………2
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………....3
BAB
I PENDAHULUAN …………………………………………………………………...4
A. Latar
belakang………………………………………………………………………...4
B. Rumusan
Masalah…………………………………………………………………….4
C. Tujuan
………………………………………………………………………………..4
BAB
II PEMBAHASAN ……………………………………………………………………5
1. Pengertian
Analisa Titrimetri atau Volumetri………………………..................................…5
2. Syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisa volumetri……….............6
3. Macam-
macam Analisa Volumetri………………………………………………….............6
4. Klasifikasi
Analisa Titrimetri atau Volumetri……………………………………….............7
5. Pembagian
Analisa Volumetri…………………………………………..............…………...8
……………………………………………………………………................................…...12
…………………………………………………………………………....................................12
……………………………………………………………………………..........................…..12
……………………………………………………………………….................................13
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Ilmu kimia adalah ilmu
mempelajari tentang komposisi, struktur dan sifat kimia atau materi berdasarkan
perubahan yang menyertai terjadinya reaksi kimia serta dapat menjelaskan proses
atau reaksi yang ditimbulkan dari kejadian tersebut misalnya terjadi perubahan
materi dan energi.
Dalam percobaan
laboratorium kita sebagai mahasiswa jurusan kimia sering dipertemukan dengan
suatu paraktek yang disebut dengan
titrasi, Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di
dalam proses titrasi. Proses titrasi
juga sering disebut dengan analisa volumetri.
Pada
percobaan volumetri, penentuan dilakukan dengan jalan titrasi yaitu, suatu
proses di mana larutan baku (dalam bentuk larutan yang telah diketahui
konsentrasinya) ditambahkan sedikit demi sedikit dari sebuah buret pada larutan
yang ditentukan atau yang dititrasi sampai keduanya bereaksi secara sempurna
dan mencapai jumlah equivalen larutan baku sama dengan nol equivalen larutan
yang dititrasi dan titik titrasi ini dinamakan titik equivalen atau titik akhir
titrasi.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Pengertian Analisa titrimetri atau
volumetri
2.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
dapat dilakukan analisis volumetric
3.
Macam-macam analisis volumetri
4.
Klasifikasi analisa titrimetri atau volumetri
5.
Pembagian Analisa dalam Volumetri
C.
TUJUAN
1. Agar
dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan analisa titrimetri atau volumetric
2. Agar
dapat mengetahui pembagian analisa titrimetri
3. Agar
dapat mengetahui macam-macam analisa volumetri
4. Agar
dapat mengetahui klasifikasi pada
pembagian analisa volumetri
5. Agar
dapat mengetahui reaksi –reaksi kimia pada analisa titrimetri
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Analisa Titrimetri atau Volumetri
Analisa volumetri
adalah analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur volume
suatu larutan standar yang bereaksi langsung
dengan larutan yang dianalisis, dimana kadar dan komposisi dari sampel
ditetapkan berdasarkan volume pereaksi (volume diketahui) yang ditambahkan ke
dalam larutan zat uji, hingga komponen yang ditetapkan bereaksi secara
kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses diatas dikenal
dengan titrasi. Oleh karena itu, analisa volumetri disebut
juga analisa titrimetri. Dasar –dasar dari Metode analisis kuantitatif
volumetri (titri metri),yaitu teknik analisis menggunakan titrasi.
Prosespenambahan volemu tertentu suatu larutanterhadap larutan yamg lain
disebut titrasi. Larutan yang sudah di ketahui konsentrasinyaadalah larutan
standar. Analit adalah larutanyang akan ditentukan konsentrasinya. Prinsip
Dasar Volumetri :
1. pencapaian
reaksi titik akhir ekivalen harus berlangsung secara stoikiometri.
2. titik
ekivalen adalah titik pada saat senyawayang ditambahkan (pentiter) telah tepat
mencukupi bereaksi dengan analit.
Larutan baku (standar) adalah larutan
yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan konsentrasinya biasa
dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas). Indikator adalah zat
yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di capai. Umumnya
indicator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik pada
berbagai perubahan pH. Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi
kesetaraan reaksi secara stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan
standar. Titik akhir titrasi adalah titik dimana terjadi perubahan warna
pada indicator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang
dianalisis dan larutan standar.
Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu
dicapai lalu diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan
titik akhir titrasi sangat mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa. Pada
kebanyakan titrasi titik ekuivalen ini tidak dapat diamati, karena itu perlu
bantuan senyawa lain yang dapat menunjukkan saat titrasi harus dihentikan.
Senyawa ini dinamakan indikator.
B.
Syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetric
Syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis volumetrik adalah sebagai
berikut :
1. Reaksinya
harus berlangsung sangat cepat.
2. Reaksinya
harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang
kuantitatif/stokiometrik.
3. Harus
ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara
kimia maupun secara fisika.
4. Harus
ada indikator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika.
Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.
C.
Macam-Macam
Analisa Volumetri
Adapun macam-macam analisis volumetri ada
tujuh, yakni:
1.
Gasometri
Gasometri adalah volumetri gas dan yang diukur
(kuantitatif) adalah volume gas yang direaksikan atau hasil reaksinya.
2.
Titrimetri
Titrimetri atau titrasi adalah pengukuran volume
dalam larutan yang diperlukan untuk bereaksi sempurna dengan sevolume atau
sejumlah berat zat yang akan ditentukan. Dalam setiap metode titrimetri selalu
terjadi reaksi kimia antara komponen analit dengan zat pendeteksi yang disebut
titran.
3.
Alkalimetri
Alkalimetri adalah metode yang digunakan untuk
menentukan kadar suatu zat yang bersifat asam dengan menggunakan larutan
standar yang bersifat basa.
4.
Acidimetri
Acidimetri adalah metode yang digunakan untuk
menentukan kadar suatu zat yang bersifat basa dengan menggunakan larutan
standar yang bersifat asam. Pada titrasi acidimetri terjadi penetralan asam
basa menurut reaksi
5.
Permanganometri
Permanganometri adalah metode yang digunakan untuk
menentukan kadar suatu zat yang bersifat reduktor dengan menggunakan larutan
standar KMnO4yang bersifat oksidator. Pada titrasi permanganometri terjadi
reaksi redoks. Titrasi permanganometri tidak menggunakan indikator karena
KMnO4 sudah berfungsi sebagai auto indikator
6.
Iodometri
Iodometri adalah metode yang digunakan untuk
menentukan kadar suatu zat yang bersifat reduktor dengan menggunakan larutan
standar I2 yang bersifat oksidator. Penambahan amylum dilakukan menjelang
TAT. Bila amylum ditambahkan lebih dahulu akan mengganggu jalannya pengamatan
pada TAT sebab I2 dapat mengikat amylum sehingga iod amylum sukar dipisah.
7.
Iodimetri
Iodometri adalah menentukan kadar suatu zat yang
bersifat oksidator (I2) dengan menggunakan larutan standar yang bersifat
reduktor.
D.
klasifikasi
Analisa Titrimetri atau Volumetri
Penggolongan analisis titrimetri ini,
berdasarkan ;
1. Reaksi
Kimia asam basa :
a. Reaksi
asam-basa (reaksi netralisasi)
Jika
larutan bakunya adalah larutan basa, maka zat yang akan ditentukan haruslah
bersifat asam dan sebaliknya.
Yang terjadi adalah reaksi antara senyawa/ ion yang
bersifat sebagai oksidator dengan senyawa/ ion yang bersifat sebagai reduktor
dan sebaliknya.
Berdasarkan larutan
bakunya, titrasi dibagi atas :
a. Oksidimetri
adalah metode titrasi redoks yang dimana larutan baku yang digunakan bersifat sebagai oksidator.
b. Reduksimetri adalah titrasi redoks dimana
larutan baku yang digunakan bersifat sebagai reduktor.
3. Reaksi
Pengendapan (presipitasi)
Reaksi Pengendapan adalah reaksi penggabungan ion
yang menghasilkan endapan/ senyawa yang praktis tidak terionisasi.
4. Reaksi
kompleksometri
Titrasi
kompleksometri digunakan untuk menetapkan kadar ion-ion alkali dan alkali
tanah/ ion-ion logam. Larutan bakunya : EDTA
E.
Pembagian
Analisa Volumetri
Berdasarkan atas hasil reaksi antara analit dengan
larutan standar, maka analisis volumetri dibagi atas :
1.
Titrasi asam – basa
Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa
sebagai titer ataupun titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.
Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan
sebaliknya.Titrant ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai
keadaan ekuivalen ( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis
bereaksi). Keadaan ini disebut sebagai “titik ekuivalen”.
Pada saat titik ekuivalent ini maka proses titrasi
dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai
keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan
konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant. sebelum melakukan
titrasi, ada Cara Mengetahui Titik Ekuivalen.
Studi kuantitatif mengenai reaksi penetralan
asam-basa paling nyaman apabila dilakukan dengan mengunakan prosedur yang
disebut titrasi. dalam percobaan titrasi, suatu larutan yang konsentrasinya
diketahui secara pasti, disebut dengan larutan standar (standard
solution),ditambahkan secara bertahap ke larutan yang lain konsentrasinya tidak
diketahui, sampai reaksi kimia antara kedua larutan tersebut berlangsun sampai
sempurna jika kita mengetahui volume larutan standard dan larutan tidak
diketahui yang digunakan dalam titrasi,maka kita dapat menghitung konsentrasi
larutan tidak diketahui itu.
Titrasi asam basa melibatkan reaksi neutralisasi
dimana asam akan bereaksi dengan basa dalam jumlah yang ekuivalen. Titran yang
dipakai dalam titrasi asam basa selalu asam kuat atau basa kuat. Titik akhir
titrasi mudah diketahui dengan membuat kurva titrasi yaitu plot antara pH
larutan sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan.
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan
pengamatan, tidak diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis.Indikator yang
dipakai dalam titrasi asam basa adalah indicator yang perbahan warnanya
dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan
umumnya adalah dua hingga tiga tetes.Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi
maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik equivalent, hal
ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan
titrasi yang akan dilakukan.Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara
melihat perubahan warna indicator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.
Dalam percobaan,Larutan standar biasanya kita
teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang
akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat
dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh
larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut
indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik
akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik
akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit
perbedaan yang disebut kesalahan titrasi.
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah
kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir
titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat
penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung
dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan
oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang
mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau
harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah. Pada
saat titik ekuivalen maka mol-ekuivalent asam akan sama dengan mol-ekuivalent
basa, maka hal ini dapat kita tulis sebagai berikut:
mol-ekuivalen asam
= mol-ekuivalen basa
Mol-ekuivalen diperoleh dari hasil
perkalian antara Normalitas dengan volume maka rumus diatas dapat kita tulis
sebagai:
NxV
asam = NxV basa
Normalitas diperoleh dari hasil
perkalian antara molaritas (M) dengan jumlah ion H+ pada asam atau jumlah ion
OH pada basa, sehingga rumus diatas menjadi:
nxMxV
asam = nxVxM basa
2.
Titrasi pengendapan
Titrasi pengendapan merupakan suatu proses titrasi
yang dapat mengakibatkan terbentuknya endapan dari zat-zat yang saling bereaksi
(analit dan titran ). Suatu reaksi endapan dapat berkesudahan bila kelarutan
endapannya cukup kecil. konsentrasi ion-ion yang akan mengalami perubahan yang
besar di dekat titik ekuvalennya. Terdapat 3 cara penentuan suatu senyawa
dengan titrasi pengendapan yaitu :
a. cara
mohr
b. cara
volhard dan,
c. cara
fayans
Pada penentuan dengan cara mohr,dilakukan titrasi
langsung dalam larutan netral dan sebagai indicator digunakan ion
kromat, ion kromat bertindak sebagai indikator yang banyak digunakan untuk
titrasi argentometri ion klorida dan bromida. Titik akhir titrasi dalam metode
ini ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata dari perak kromat.
Cara volhard digunakan untuk menetapkan kadar ion
klorida secara tidak langsung dalam suasana asam kuat ke dalam
larutan klorida ditambahkan larutan baku perak nitrat dalam jumlah sedikit dan
berlebihan. Kelebihan ion perak dititrasi dengan larutan baku tiosianat
mengunakan indicator Fe(III).Titik akhir titrasi ditandai dengan terbentuknya
larutan berwarna merah senyawa Fe(CNS)2+.titasi ini merupakan titrasi balik
digunakan jika reaksi berjalan lambat atu jika tidak ada indicator pemastian
TE.
Cara Fajans menggunakan indikator suatu senyawa
organik yang dapat diserap pada permukaan endapan yang terbentuk selama titrasi
argentometri berlangsung AgNO3 digunakan sebagai titran dan indicator, eiosin,fluoceein.metode
ini digunakan untuk menentukan Cl-,Br‑,I‑,SCN‑.
3.
Titrasi reduksi-oksidasi
Titrasi Reduksi oksidasi (redoks) adalah suatu
penetapan kadar reduktor atau oksidator berdasarkan atas reaksi oksidasi dan
reduksi dimana redoktur akan teroksidasi dan oksidator akan tereduksi. Agar
dapat digunakan sebagai dasar titrasi, maka reaksi redoks harus memenuhi
persyaratan umum sebagai berikut :
a. Reaksi
harus cepat dan sempurna.
b. Reaksi
berlangsung secara stiokiometrik, yaitu terdapat kesetaraan yang pasti antara
oksidator dan reduktor.
c. Titik
akhir harus dapat dideteksi, misalnya dengan bantuan indikator redoks atau
secara potentiometrik.
Salah satu aplikasi titrasi redoks khususnya
iodometri dengan I2 sebagai titran adalah untuk
menentukan bilangan iod lemak dan miyak.Karena kemampampuan mengoksidasi yang
tidak besar, tidak banyak zat yang dapat dititrasi berdasarkan iodometri
langsung. Pengunaan ini memeanfaatkan kesangupan ikatan rangkap zat organic
untuk mengadisi iod. Penentuan kadar vitamin C (asam arkobat) pun dapat
dialakukan dengan titrasi ini.
Aplikasi lain dadi titrasi redoks ini
adalah penentuan kadar air cara Karl Fischer. Pereaksinya tediri
dari iod, belerang dioksida, piridin dan methanol. Iod dan belerang dioksida
membentuk kompleks dengan piridin, dan bila terdapat air, maka kedua kompleks
ini dengan kelebihan piridin beraksi dengan air.
4.
Titrasi Kompleksometri
Titrasi kompleksometri adalah cara penetapan kadar
ion logam berdasarkan terbeentuknya senyawa kompleks antara ion logam dan
senyawa pembentuk kompleks, yang merupakan donor elektron.. Titrasi
kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan
ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam
larutan.
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran
dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi
pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan
penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi.
Dalam titrasi kompleksometri perlu diperhatikan pH
larutan yang dititrasi, sebab asam edtat terionisasi dalam 4 tingkat (pKl = 2,0
; pK2 = 2,67 ; pK3 = 6,16 dan pK4 = 10,20) dan spesies pembentuk kompleks yang
sebenarnya adalah Y=. Dengan demikian, kompleks akan terbentuk lebih efisien
dan lebih stabil dalam larutan alkalis.
Salah satu senyawa pembentuk kompleks yang banyak
digunakan adalah Na.EDTA. senyawa EDTA ini dengan banyak kation membentuk
kompleks dengan perbandingan 1:1 beberapa valensi.
M++ + (H2Y)= (MY)= + 2H+
M3+ + (H2Y)= (MY)- + 2H+
M4++ (H2Y)= (MY) + 2 H+
M
adalah logam dan (H2Y) adalah anion garam dinatrium edtat.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan
yang dapat saya ambil dari makalah ini yaitu :
1. Analisa
volumetri adalah analisa kimia kuantitatif yang dilakukan dengan jalan mengukur
volume suatu larutan standar yang bereaksi langsung dengan larutan yang dianalisis.
2.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk
dapat dilakukan analisis volumetrik adalah sebagai berikut :
a. Reaksinya
harus berlangsung sangat cepat.
b. Reaksinya
harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang
kuantitatif/stokiometrik.
c. Harus
ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara
kimia maupun secara fisika.
d. Harus
ada indikator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia atau fisika.
Indikator potensiometrik dapat pula digunakan.
3.
Adapun macam-macam analisis volumetri
ada tujuh, yakni: Gasometri, Titrimetri, Alkalimetri, Acidimetri,
Permanganometri, Iodometri dan Iodimetri.
4.
Penggolongan analisis titrimetri yaitu:
Reaksi Kimia asam basa, Reaksi oksidasi-reduksi (redoks), Reaksi Pengendapan
(presipitasi) dan Reaksi kompleksometri
5. Berdasarkan
atas hasil reaksi antara analit dengan larutan standar, maka analisis volumetri
dibagi atas : Titrasi asam-basa, Titrasi pengendapan, Titrasi redoks dan Titasi
kompleksometri
B.
Saran
Dalam melakukan analisis volumetri
dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian agar tidak salah dalam menganalisis.
Karena jika terdapat kesalahan kecil yang disebabkan oleh peneliti, akan
mengakibatkan kesalahan besar dalam menganalisis.
DAFTAR
PUSTAKA
Mulyono HAM. 2006. Kamus Kimia. Bandung : PT Bumi Aksara
Mulyono HAM. 2006.Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Bandung : PT Bumi Aksara
Ritawidya, Rien,
Martalena Ramli dan Cecep Taufik Rustendi. 2014. Validase Metode Penentuan
Kadar Gadolinum (III) dan Ligan Diethyl Tetramine Penta Acetic (
DTPA) dalam Contrast Agent Gd. DTPA. Jurnal
Radisotop dan Radiofarmaka. ISSN: 1410-8542. 17 (1)
Suirta I,W. 2010. Sintesis senyawa orto fenilazo
-2-Naftol Sebagai Indikator dalam Titrasi. Jurnal
Kimia 4 (1).
Tim Dosen Kimia UNHAS. 2012. Kimia Dasar. Makassar : Universitas
Hasanuddin
Tim Penyusun
Modul Kimia UNY. 2011. Kimia.
Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar